<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hotelku Blog</title>
	<atom:link href="http://hotelku.co.id/blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hotelku.co.id/blog</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Dec 2010 08:35:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Golf</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/golf/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/golf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 06:54:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Golf Monthly Magazine]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Beach Golf Course]]></category>
		<category><![CDATA[bali golf]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Golf and Country Club]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Handara Kosaido Country Club]]></category>
		<category><![CDATA[glof]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Golf Digest]]></category>
		<category><![CDATA[new kuta golf]]></category>
		<category><![CDATA[Nirwana Bali Golf Club]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[
GUZC66XACJ3E
Dalam dekade terakhir ini Bali telah berkembang sebagai tempat tujuan untuk bermain golf bagi penggemar golf dari seluruh dunia. Dengan padang golf terbaik di Asia Bali menarik para pegolf  untuk merasakan pengalaman bermain golf yang menantang di Pulau Dewata. Berikut selayang pandang mengenai padang golf di Bali.
Bali Golf and Country Club telah terpilih &#8220;Salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/11/golf1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-166" title="golf1" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/11/golf1.jpg" alt="" width="625" /></a><br />
GUZC66XACJ3E<br />
Dalam dekade terakhir ini Bali telah berkembang sebagai tempat tujuan untuk bermain golf bagi penggemar golf dari seluruh dunia. Dengan padang golf terbaik di Asia Bali menarik para pegolf  untuk merasakan pengalaman bermain golf yang menantang di Pulau Dewata. Berikut selayang pandang mengenai padang golf di Bali.</p>
<p>Bali Golf and Country Club telah terpilih &#8220;Salah satu Asia&#8217;s 5 Best Golf &#8216;oleh Majalah Fortune pada tahun 1997. Padang golf ini juga menjadi tuan rumah 1994 Asia Dunhill Masters. Bali Golf and Country Club menawarkan tidak saja hanya menawarkan padang golf dengan 18 hole, lokasi premium, angin laut yang menantang, layanan pelanggan, fasilitas, kereta golf, caddies, tapi suatu prestise dalam bermain golf. Dari ruang ganti ke tee box, dari  fairway, ke green, Bali Golf dan Country Club menawarkan layanan yang prima dan berpengalaman.</p>
<p><span id="more-163"></span></p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/11/golf1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-166" title="golf2" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/11/golf2.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Nirwana Bali Golf Club di Tanah Lot telah terpilih oleh Asian Golf Monthly Magazine dan Majalah Golf Digest sebagai lapangan golf terbaik di Indonesia, dan juga telah dinilai oleh Asian Golf Monthly sebagai resor golf No 1 di Asia. Golf Internasional dari Inggris memilih Le Meridien sebagai salah satu dari 10 resort golf terbaik di dunia. Nirwana Bali Golf Club didesain oleh pegolf legendaris Greg Norman.Padangan golf ini menyediakan tantangan unik yang tentunya akan menguji akurasi dan konsistensi dari Profesional PGA namun masih menyenangkan bagi pegolf pemula.</p>
<p>Bali Handara Kosaido Country Club terletak di daerah pegunungan Bedugul, dan menempati peringkat 50 teratas di dunia pada tahun 1979-1980. Bali Handara Kosaido Country Club terletak  di ketinggian 1,142 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh pegunungan, danau dan hutan menciptakan sebuah latar belakang yang dramatis. Bali Handara Kosaido Country Club memiliki 18 hole, 72 par championship course yang dirancang oleh pegolf internasional yang terkenal dan arsitek Peter Thompson, Michael Wolveridge dan rekan pada tahun 1974.</p>
<p>New Kuta Golf disebut sebagai salah satu padang golf terbaik dan paling menantang oleh Asia Golf Championship. New Kuta Golf terletak di tebing daerah Bukit, menawarkan panorama ombak biru Samudera Hindia yang luas dan tentu saja padang golf 18 hole seluas lima hektar yang diranacang oleh Ronald Freeman. New Kuta Golf memiliki 5 set tee yang disesuaikan dengan semua tingkatan. Dan jangan lewatkan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan dari hole 14, 15, dan 16.</p>
<p>Bali Beach Golf Course dirancang dengan konsep lngkungan yang matang dengan pohon-pohon tinggi, danau, mounding, fairway dan green baru. Bali Beach Golf Course menyediakan tantangan bagi semua pegolf dengan berbagai tingkat keahlian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/golf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekowisata</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/ekowisata/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/ekowisata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 02:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[ekowisata]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Ekowisata Desa]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[yayasan wisnu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[
Pariwisata massal selamam bertahun-tahun telah mengubah wajah Bali secara cepat dan tentu saja bentuk pariwisata ini membawa pengaruh yang tidak kecil pada lingkungan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kehidupan manusia di dalamnya. Oleh karena itu sejak tahun 2002 Jaringan Ekowisata Desa (JED) diluncurkan untuk menanggapi situasi ini. Hotelku.co.id turut  mengambil bagian dalam program ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/11/ekowisata.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-160" title="ekowisata" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/11/ekowisata.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Pariwisata massal selamam bertahun-tahun telah mengubah wajah Bali secara cepat dan tentu saja bentuk pariwisata ini membawa pengaruh yang tidak kecil pada lingkungan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kehidupan manusia di dalamnya. Oleh karena itu sejak tahun 2002 Jaringan Ekowisata Desa (JED) diluncurkan untuk menanggapi situasi ini. Hotelku.co.id turut  mengambil bagian dalam program ini untuk memberdayakan desa-desa dan melestarikan lingkungan sehingga desa-desa tersebut dapat mewariskan lingkungan yang lestari pada generasi penerus disamping turut juga berkontribusi bagi perekonomian.</p>
<p><span id="more-158"></span><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/11/ekowisata2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-161" title="ekowisata2" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/11/ekowisata2.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Jaringan Ekowisata Desa ini dikelola dengan bekerjasama denganYayasan Wisnu, LSM tertua di Bali yang berkaitan tentang alam dan lingkungan. Jaringan Ekowisata Desa ini menghubungkan upaya konservasi, masyarakat, dan pariwisata yang berkelanjutan. Ini berarti bahwa masyarakat  desa berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata yang bertanggung jawab berdasarkan  prinsip-prinsip ekowisata sebagai berikut:</p>
<p>• Memiinimalkan dampak pariwisata terhadap lingkungan dan budaya.<br />
• Membangun kesadaran lingkungan, budaya dan rasa hormat.<br />
• Memberikan pengalaman positif untuk  pengunjung dan tuan rumah.<br />
• Memberikan manfaat keuangan langsung untuk konservasi.<br />
• Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat setempat.<br />
• Meningkatkan sensitivitas masyarakat untuk menjadi tuan rumah &#8216;politik, lingkungan, dan sosial.</p>
<p>Program Pariwisata Berkelanjutan adalah:<br />
&#8220;Pariwisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan dan daerah tuan rumah dengan tetap melindungi dan meningkatkan lingkungan untuk masa depan.&#8221;</p>
<p>Jadi, kami undang anda untuk mengambil bagian dalam program ini, karena ini sangat berarti untuk BALI.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/ekowisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUNYA NIRVANA TELAH MENARI DIHADAPAN SANG GURU (para PEDANDE BUDHA di budhakeling)</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/sunya-nirvana-telah-menari-dihadapan-sang-guru-para-pedande-budha-di-budhakeling/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/sunya-nirvana-telah-menari-dihadapan-sang-guru-para-pedande-budha-di-budhakeling/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 21:55:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[budakeling]]></category>
		<category><![CDATA[Budhakeling]]></category>
		<category><![CDATA[cungklik]]></category>
		<category><![CDATA[Dalem Waturenggong]]></category>
		<category><![CDATA[Dang Hyang Astapaka]]></category>
		<category><![CDATA[gambuh]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[Ida Wayan Granoka Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Ida Wayan Padang]]></category>
		<category><![CDATA[kakawin Sutasoma]]></category>
		<category><![CDATA[Karangasem]]></category>
		<category><![CDATA[Mahayana]]></category>
		<category><![CDATA[Mpu Tantular]]></category>
		<category><![CDATA[ngarja]]></category>
		<category><![CDATA[ngewayang]]></category>
		<category><![CDATA[nopeng]]></category>
		<category><![CDATA[prembon]]></category>
		<category><![CDATA[siwa buda]]></category>
		<category><![CDATA[SUNYA NIRVANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Cok Sawitri

Akhirnya, drama tari Percakapan Sunya Nirvana ini pentas di desa Budhakeling (19 Oktober 2010), Karangasem Bali, di griya jelantik, di rumah kaum brahmana budha bali, yang sejak lama dikenal sebagai brahmana yang menguasai berbagai keahlian seni. Dari ngewayang, gambuh, ngarja, prembon, nopeng, juga memainkan alat musik dari gender hingga cungklik. Kaum budha di Bali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.facebook.com/notes/cok-sawitri/sunya-nirvana-telah-menari-dihadapan-sang-guru-para-pedande-budha-di-budhakeling/486620173222">Oleh Cok Sawitri</a></p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/sunya.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-154" title="sunya" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/sunya.jpg" alt="" width="640" height="480" /></a></p>
<p>Akhirnya, drama tari Percakapan Sunya Nirvana ini pentas di desa Budhakeling (19 Oktober 2010), Karangasem Bali, di griya jelantik, di rumah kaum brahmana budha bali, yang sejak lama dikenal sebagai brahmana yang menguasai berbagai keahlian seni. Dari <strong><em>ngewayang, gambuh, ngarja, prembon, nopeng,</em></strong> juga memainkan alat musik dari gender hingga cungklik. Kaum budha di Bali ini memang berbeda dengan ‘gaya’ budha-budha di daerah di Indonesia begitu pula di belahan dunia yang lain; mereka dari garis Mahayana namun berbasis bajrayana pada tekanan tantrayana; lebih suka menyebutnya dengan mantranaya; disinilah, kakawin Sutasoma biasa dibacakan dan menjadi rajapustaka; para pewaris semangat Mpu Tantular ini kini berkembang menjadi komunitas yang cukup banyak; walau banyak dari keturunan Budhakeling ini berpindah ke luar desa; entah dalam kerangka tugas spiritual, entah juga karena tuntutan perubahan zaman. Mereka itu memiliki silsilsah sejarah yang bermula dari Dang Hyang Astapaka: pendeta budha yang datang ke bali atas undangan Dalem Waturenggong di gelgel dalam rangka menyelesaikan suatu upacara. Itulah awalnya, Dang hyang astapaka memulai puja tapanya di budhakeling dan kemudian mewariskan tradisi tak hanya spiritual namun tradisi berkesenian.</p>
<p><span id="more-153"></span></p>
<p>Dasar gerak dramatari Percakapan sunya nirvana ini bermuara kepada gerakan panji style budhakeling, melalui salah satu keturunannya ida Wayan Padang; diceritakan bahwa gerakan kupu-kupu ini diajarkan oleh Dang Hyang Astapaka kepada putra-putranya; kala itu tujuannya agar wilayah pemukiman itu ada ‘keleteg’ (penanda detak) dan penguatan kehalusan hati. Dayu Arya kemudian bersama saya berusaha keras mewujudkan gerakan pola dasar itu; sebab Ida Wayan Padang dalam ketuaan usianya; lebih banyak memberi ‘tutur’ (satue) dan contoh gerakan yang menjadi prinsip. Dayu Arya yang sejak kecil diasuh ayahnya Ida Wayan Granoka Gong dengan cepat dapat memahami maksud dari Ida Wayan Padang. Saya berusaha mewujudkan pola pemanggungan dan pola dasar koreonya. Pementasan ini; sungguh suatu model pola gerak kembali kepada yang disebut ‘bebakalan’ kembali kepada gerakan-gerakan asal; yang belum dibumbui dengan palegongan…dst</p>
<p>Setelah pentas di uji coba pentas di SMA Negeri 1 Sidemen (25 september 2010); dihadapan kawan-kawan para penari, berbagai kritik dan sanjungan, membuat saya dan dayu ani mengevaluasi lalu menggenapinya saat pentas di UWRF 2010 (6 oktober 2010); di sini pun banyak hujan kritik dan pujian, membuat kami kembali membenahi dan bersiap menghaturkan pentas ini ke Budhakeling; ke asal semua pola gerak ini dilahirkan. Tidak ada perubahan yang besar kecuali setting pementasan dilaksanakan di bawah pohon sawo; jabaan tengah dari griya jelantik, yang dahulu kala memang terbiasa digunakan sebagai ‘panggung pertunjukan’.</p>
<p>Ada perbedaan jelas menyetting panggung dengan halaman rumah dimana sebatang pohon sawo ditengahnya. Ada seharian saya dan crew mempelajari ke luar masuknya para penghuni griya dan memperhatikan bagaimana posisi pintu tinggi dengan ketinggian pohon sawo serta tenda-tenda yang telah dibangun untuk undangan pediksaan yang akan diselenggarakan sehari setelah pementasan. Akhirnya setting dapat kami selesai dalam waktu setengah hari, dengan sesekali harus menghentikan pekerjaan karena rombongan pendande melewati halaman tengah itu.</p>
<p>Pentas Percakapan Sunya Nirvana ini, kali ini memang menarik sang penari ke hadapan sang guru dalam tradisi bali; menghaturkan persembahan tanpa berani mempertanyakan; apapun itu, bahkan saat diminta; pentas harus menunggu usainya puja stawa sang guru; jadi pentas dilakukan ketika sang guru telah siap duduk untuk menonton, bukan tergantung kepada penonton yang lainnya.Inilah sikap tatakrama yang harus dijalani; jika menginginkan batin pun ikut menari.</p>
<p>Sikap ini sangat penting bagi calon pragina terutama bagi anak-anak remaja dari sma negeri 1 sidemen; untuk memahami tata krama berguru; menghormati dengan iklas kepada sang guru yang hendak menilai proses pelatihan itu. Walau sang guru bukanlah guru langsung, namun posisi para pendande ini adalah sang guru yang sejatinya; bapa-ibu yang sesungguhnya. Ida Wayan Oka Granoka mengatakan: bahkan pembukaan Pesta Kesenian Bali pun tak akan mampu menarik kehadiran para pedande ini, maka berbahagialah para penari ini ditontoni para pendande (para nabe bahkan). Dan usai menari; Pedande Gde Djelantik Dwaja; memberikan panugrahanya, memberikan restunya; memberi dorongan dan rasa bahagia; sebab kini menari tak lagi membisu; semoga kemauan seperti ini dilanjutkan dan ditularkan. Demikian pula Ida Wayan Granoka Gong (Mahaguru Mahabajra sandi); mengatakan: jantung kamu tersentak oleh pementasan kalian; lanjutkan dan jangan ragu untuk terus memurnikan; Artinya, kami harus terus berbenah; cara sang guru menegur tidaklah seperti guru umumnya, beliau dengan jenial menyarankan memasukan terjemahan kakawin Sutasoma ke dalam ‘pola bahasa’ yang dapat diterima tanpaa mengurangi susbtansi dan puitikanya.</p>
<p>Nah, rasa gemetar, gugup; rasanya lenyap, walau wajah saya dan dayu arya tetap pucat pasi, saat duduk bersimpuh di hadapan sang guru; menyampaikan permohonan; memaklumi segala kekurangan. Tetaplah tetap kami anak-anak yang nakal, usai itu, saat jabaan tengah bebas dari pandangan sang guru; mulailah kembali kami bercanda dan membongkar setting secepat mungkin, sebab besok upacara pediksaan pedande kanya akan dilakukan pagi-pagi benar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/sunya-nirvana-telah-menari-dihadapan-sang-guru-para-pedande-budha-di-budhakeling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGENALI SECARA SEPINTAS MAGURU SISIA DALAM TRADISI SIWA BUDHA DI BALI (1)</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/mengenali-secara-sepintas-maguru-sisia-dalam-tradisi-siwa-budha-di-bali-1/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/mengenali-secara-sepintas-maguru-sisia-dalam-tradisi-siwa-budha-di-bali-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 09:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[SIWA BUDHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[oleh cok sawitri
Dalam tradisi hindu di Bali ada yang disebut sang sulinggih (ida pedande), mereka (dia) yang telah melewati upacara madwijati  (masuci,madiksa,mabersih, mapeningan, atau juga ada yang menyebut dengan mapodgala). Mereka itu yang berkeinginan menjadi sang sulinggih telah menyiapkan dirinya secara sekala dan niskala. Sang sisia, setelah memantapkan dirinya bersiap untuk berkosentrasi mempelajari ajaran suci.

Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.facebook.com/notes/cok-sawitri/mengenali-secara-sepintas-maguru-sisia-dalam-tradisi-siwa-budha-di-bali-1/483928678222" target="_blank">oleh cok sawitri</a></p>
<p>Dalam tradisi hindu di Bali ada yang disebut sang sulinggih (<em><strong>ida pedande</strong></em>), mereka (dia) yang telah melewati upacara <em><strong>madwijati </strong></em><strong><em> </em></strong>(<em><strong>masuci,madiksa,mabersih, mapeningan, atau juga ada yang menyebut dengan mapodgala</strong></em>). Mereka itu yang berkeinginan menjadi sang sulinggih telah menyiapkan dirinya secara sekala dan niskala. Sang sisia, setelah memantapkan dirinya bersiap untuk berkosentrasi mempelajari ajaran suci.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/siwabuda.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-150" title="siwabuda" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/siwabuda.jpg" alt="" width="480" height="640" /></a></p>
<p>Di bali dalam tradisinya; bagi laki-laki biasanya menyiapkan diri setelah melewati masa produktif kerja dan menikah (grhasta); memasuki yang dalam idealnya disebut wanaprasta; di bali <strong>wanaprasta</strong> bagi sang sisia ini justru dimulai pula masa brahmacari, tahap proses belajar kerohanian. Bandingkan dengan pengertian brahmacari dalam konteks ajaran catur asrama hindu india plus bandingkan dengan tradisi upanaya; demikian pula bandingkan bahwa dalam tradisi bali; perempuan diizinkan menjadi pendeta sekalipun tidak menikah (disebut kelak <strong>pedande kanya;kania</strong>).</p>
<p><span id="more-148"></span></p>
<p>Tradisi keagamaan Bali mewariskan sang sisia yang akan menentukan mencari sang nabe, sang guru); berbagai alasan dipergunakan; yang pertama, pertalian darah, pertalian hubungan historis dalam guru masisia, kesamaan mashab juga pertimbangan ‘desa kala patra’. Jadi sang sisia akan mempertimbangkan banyak hal ketika menentukan, siapa yang akan dipinangnya menjadi sang nabe. Sebaliknya, sang nabe pun demikian akan mempertimbangkan permintaan calon sisiannya, apakah akan menerima ataukah tidak permohonan tersebut; dari tradisi ketelitian guru nabe sangat menentukan kelak kesempurnaan sang sisia.</p>
<p>Apabila telah ada kesepahaman, kemantapan di hati juga pertimbangan seluruh keluarga, maka sang calon sisia akan dikenalkan mengenai “ <em><strong>nihan ta cilakramaning aguron-aguron, haywa tan bhakti ring guru, haywa himaniman, haywa tan cakti ring sang guru, hyawa tan sadhu tuhwa, haywa nikelana sapatuduhing sang guru, haywangideki wayangan sang guru, haywanglungguhi palungguhing sang guru</strong></em>. (dikutip dari cilakrama)”</p>
<p>Sang sisia saat telah diterima sebagai seorang nabe (mahaguru): maka akan otomatis mentaati tatatertib; janganlah tidak bakti terhadap guru, janganlah mencaci maki guru, janganlah segan kepada guru, jangan tidak tulus, jangan menentang segala perintah guru, jangan menginjak bayangan guru, jangan menduduki tempat duduk guru.</p>
<p>Hubungan sang sisia (kang anak) dengan sang nabe ditertibkan dengan sangat ketat, bahkan kenyataan calon sisia (calon pendande di bali) jarang bahkan tidak berani terlalu sering bertemu dengan sang nabe, sebab ada aturan sebagai berikut; seorang sisia tidak diperkenankan duduk berhadap-hadapan dengan sang nabe, tidak diizinkan memutus pembicaraan sang nabe, harus menuruti perkataan/apa yang diucapkan sang nabe, bila sang nabe datang tanpa direncanakan, sang sisia harus turun dari tempat duduknya, menunduk sampai diizinkan berdiri, bila diizinkan berjalan bersama, sang sisia berjalan di belakang dalam jarak dimana bayangan sang nabe tidak akan terinjak kakinya.</p>
<p>Demikian pula aturan menyahuti ucapan sang guru, selalu dalam aturan yang ketat; kemudian tidak emosi, terpancing membantah apabila dimarahi ataupun dinasehati, ditegur. Demikian pula dalam aturan sujud bakti, ada tata tertib yang ketat harus ditaati oleh sang sisia.</p>
<p>Sang sisia jauh-jauh hari baik karena tradisi maupun diberitahu oleh guru pendampingnya (guru waktra), mengenai aturan busana sampaipun rambut.  Perhatikan bahwa tradisi menggunakan bhawa <em><strong>(aketu agung</strong></em>) hanya dikenal dalam tradisi hindu di bali; sebab dalam hindu dikenal penataan hiasan rambut ini beragam; dalam tradisi bali dikenal <em>aketu agung</em>, kemudian dikenal pula dengan <em>abhawa ro</em>n, mendandani rambut dengan daun, <em>adastar </em> menggunakan destra, <strong>abebed sirah</strong>; memakai serban, bergundul (<strong>amundi</strong>), kemudian rambut yang dijalin kelihatannya sebagai mahkota (<strong>aketujat</strong>a);dihias dengan buah-buah kecil yang bulat atau dalam sankerta disebut Rudraraksa atau dalam kawi jawa disebut <strong><em>Aketu ganitr</em></strong>i, kemudian terurai (angrure): biasanya pedande budha yang lelaki melakukan angrure, kemudian dikenal pula sanggul rambut sebaga Amrabku, ada juga rambut di tengkuk kepala, disebut anondong; dst….termasuk <strong>akuncir alit</strong>; dikenal di india pada sadhu-sadhu; jadi tata krama hiasan rambut dalam tradisi pendeta di bali memang berbeda dengan tradisi yang ada di india. Demikian pula pemakaian busana, dstnya.</p>
<p>Sang calon sisia pun mulai melatih diri dalam aturan makan, yang boleh dan tidak diperbolehkan. Bandingkan dengan laku vegetarian; tradisi di bali justru menjelaskan aturan makan dan minum bagi pedande dengan jelas dan teliti: perhatikan bagi pedande dengan garis civait dilarang  makan daging babi yang dipelihara didesa (<em><strong>celengwanwa), ayamwanwa, krurapaksi, nilapaksi, atat,syun</strong></em>g, dst. Kemudian mengenai pantangan memakan binatang pancanaka kecuali beberapa yang diizinkan, mengenai larangan memakan makan dari yang hidup di dalam tanah seperti<em><strong>bhuhkrimi, bekut,, pramikirimi,</strong></em> berbagai jenis ulat, serangga, dll. Aturan mengenai yang tidak boleh dimakan tanbhaksyana, dst. Demikian pula soal minuman, kehadiran berjudi, tata cara berteduh, tata cara menempati rumah,melakukan jual-beli, berhutang, dst.</p>
<p>Banyak hal kemudian kini ditafsir seolah aturan-aturan itu sebagai tata krama feodal, padahal itulah brata (tapa) pengendalian diri seorang calon sisia yang akan menjadi seorang pendeta. Ini adalah bagian keyakinan dimana pembersihan diri tidak sebatas mandi, berpakaian bersih; namun jauh sampai ke dalam diri yang niskala. Demikian pula mengenai busana. Ini adalah pengenalan sepintas mengenai maguru sisia; tak sebatas hubungan guru dengan murid, namun ada ‘tatatertib’ yang menjadi karakater dalam tata krama yang dijadikan mendorong seseorang yang berkeyakinan untuk kelak menjadi pedande, yang akan menjadi ‘surya’ bagi umatnya.</p>
<p>Berbeda dengan model hubungan guru murid di sekolah ataukah di pasraman modern yang mengadopsi gaya-gaya tradisi agama yang berbeda mashab dan budaya yang berbeda, maka di Bali tradisi maguru sisia memiliki kekhasan sendiri. Menurut saya sepatutnya bagi yang meyakininya, menjaga tradisi maguru sisia ini, bukan justru mencoba-coba menggantikannya dengan tradisi yang berbeda.  Atau mengaburkan dengan menyamaratakan hubungan sisia (umat) dengan ‘suryanya’ (pedande) bahkan kemudian mengira jika telah menjadi guru agama atau meminpin pasraman ada dalam posisi sebagai nabe. Pengenalan sepintas ini sesungguhnya bersifat pula fleksibel, masing-masing keluarga, klan, dsbnya memiliki pula tambahan dan pengembangan aturan antara sang sisia dan sang nabe, sungguh bijak pula tidak menyeragamkannya, mengira ada yang salah dalam salah satu kebiasaan dan mengira ada yang lain yang lebih benar. Sebab ini adalah masalah keyakinan dalam maguru sisia dalam lingkup tradisi hindu di bali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/mengenali-secara-sepintas-maguru-sisia-dalam-tradisi-siwa-budha-di-bali-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ACARA SAPI SONOK DAN KARAPAN SAPI PIALA PRESIDEN AKAN DILAKSANAKAN PADA 23 &#8211; 24 OKTOBER 2010</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/acara-sapi-sonok-dan-karapan-sapi-piala-presiden-akan-dilaksanakan-pada-23-24-oktober-2010/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/acara-sapi-sonok-dan-karapan-sapi-piala-presiden-akan-dilaksanakan-pada-23-24-oktober-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Oct 2010 01:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Madura]]></category>
		<category><![CDATA[Pamekasan]]></category>
		<category><![CDATA[saronen]]></category>
		<category><![CDATA[Sonok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[
Di Pulau Madura tepatnya di daerah Pamekasan, terkenal memiliki keunikan budaya. Dimana sapi menjadi bagian tradisi mereka. Sapi jadi hewan kebanggaan yang dipamerkan dalam acara tahunan.
Selain karapan sapi yang terkenal, ada sebuah acara khusus bagi sapi betina yang didandani bak ratu kecantikan.
Kabupaten Pamekasan akan menyelenggarakan acara yang mempertemukan sapi-sapi Sonok unggulan se Madura.
Acara Akan Dilaksanakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/hyperfocals/2994374152/"><img class="alignnone size-full wp-image-141" title="karapansapi" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/karapansapi.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Di Pulau Madura tepatnya di daerah Pamekasan, terkenal memiliki keunikan budaya. Dimana sapi menjadi bagian tradisi mereka. Sapi jadi hewan kebanggaan yang dipamerkan dalam acara tahunan.</p>
<p>Selain karapan sapi yang terkenal, ada sebuah acara khusus bagi sapi betina yang didandani bak ratu kecantikan.</p>
<p>Kabupaten Pamekasan akan menyelenggarakan acara yang mempertemukan sapi-sapi Sonok unggulan se Madura.</p>
<p>Acara Akan Dilaksanakan Pada Hari Sabtu, 23 Oktober 2010</p>
<p><span id="more-142"></span></p>
<p>Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada 24 Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.</p>
<p>Kerapan sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang. Acara Akan Dilaksanakan Pada Hari Minggu, 24 Oktober 2010</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1734345648">Staf Ahli Gubernur Jatim</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/acara-sapi-sonok-dan-karapan-sapi-piala-presiden-akan-dilaksanakan-pada-23-24-oktober-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penulis Australia Dominasi UWRF 2010</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/penulis-australia-dominasi-uwrf-2010/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/penulis-australia-dominasi-uwrf-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Oct 2010 03:30:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[ubud]]></category>
		<category><![CDATA[ubud writer festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Agung Bawantara
Ubud Writers &#38; Readers Festival (UWRF) 2010 jadi ajang reuni dan temu kangen para penulis Australia. Begitu cetus seorang pecinta buku di Bali yang rajin mengamati perhelatan tahunan yang menghadirkan penulis dari dalam dan luar negeri itu. Tentu itu hanya seloroh setelah ia melihat daftar peserta dan pemerhati yang bakal hadir. Memang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jalan-jalan-bali.blogspot.com/2010/10/penulis-australia-dominasi-ubud-writers.html">Oleh : Agung Bawantara</a></p>
<p>Ubud Writers &amp; Readers Festival (UWRF) 2010 jadi ajang reuni dan temu kangen para penulis Australia. Begitu cetus seorang pecinta buku di Bali yang rajin mengamati perhelatan tahunan yang menghadirkan penulis dari dalam dan luar negeri itu. Tentu itu hanya seloroh setelah ia melihat daftar peserta dan pemerhati yang bakal hadir. Memang, tercatat dalam situs web resmi panitia, dari 143 peserta yang diundang, 49 peserta berasal dari Australia. Jumlah itu melampaui peserta dan partisipan tuan rumah, Indonesia, yang hanya berjumlah 37 orang.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/ubudwriter1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-132" title="ubudwriter" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/ubudwriter1.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Tapi, ini tentu bukan urusan jumlah peserta dan dari negara mana mereka berasal. Sebagaimana disampaikan oleh I Wayan Juniartha, salah satu orang penting dalam penyelenggaraan ajang ini, bahwa pemilihan peserta undangan lebih didasari kriteria yang berkaitan dengan dunia kepenulisan dan perbukuan. Bukan di luar hal itu.</p>
<p><span id="more-126"></span></p>
<p>“Kebangsaan penulis bukan hal terpenting. Karya dan kiprahnya yang berkaitan dengan tema festivallah yang menjadi pertimbangan utama kami,” paparnya.</p>
<p>Tema UWRF yang ke-tujuh ini adalah Bhineka Tunggal Ika : Unity in Diversity. Tema itulah yang terutama menjadi acuan untuk memilih undangan dan memilih nomor-nomor kesenian yang akan dipentaskan. Termasuk juga dalam memilih tokoh-tokoh yang akan diberi penghargaan.</p>
<p>Di lain sisi, untuk menentukan peserta asal Indonesia yang diundang, Triyanto Triwikromo salah satu kurator acara itu, mengatakan bahwa ada banyak alasan yang mendasarinya.</p>
<p>“Secara keseluruhan, mereka mencerminkan keberagaman daerah serta kantong-kantong kesusasteraan di Indonesia. Selain itu, juga mencerminkan keragaman genre, aliran, tema, dan kecenderungan kesusasteraan Indonesia, mempresentasikan penghormatan Ubud Writers &amp; Readers Festival 2010 pada upaya pemberdayaan perempuan, dan memajukan penulis-penulis muda berkualtas” begitu papar Triyanto Triwikromo kepada media.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="640" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/aME8CJVJdbM?fs=1&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="640" height="385" src="http://www.youtube.com/v/aME8CJVJdbM?fs=1&amp;hl=en_US" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Ada 18 penulis Indonesia yang diundang panitia untuk mengikuti UWRF 2010 yang akan berlangsung pada 6-10 Oktober di beberapa lokasi di Kawasan Ubud itu. Mereka adalah Kurnia Effendi (Jakarta), Medy Lukito (Jakarta), Nusya Kuswatin (Yogyakarta), Arif Riski (Padang), Zelfeni Wimra (Padang), Wa Ode Wulan Ratna (Jakarta), Andha S (Padang), Imam Muhtarom (Blitar), Wendoko (Semarang), Yudhi Heribowo (Solo), W. Hariyanto (Surabaya), Benny Arnas (Sumatera Selatan), Magriza Novita Syahti (Padang), Harry B Koriun (Riau), serta Hermawan Aksan (Bandung), Sunaryono Basuki KS(Penulis buku Biyang Bulan dan Rangda yang diterbitkan JP Books) , Ni Made Purnamasari, Iwan Darmawan (Bali).</p>
<p>Para sastrawan ini dipilih oleh Dewan Kurator Ubud Writers &amp; Readers Festival 2010 dalam sidangnya yang berlangsung awal Mei lalu di Ubud, Bali. Dewan Kurator terdiri dari Triyanto Triwikromo, Cok Sawitri, dan M Aan Mansyur.</p>
<p>Selama berlangsungnya festival, para penulis Indonesia itu kemungkinan akan mendapat kesempatan untuk berdialog dengan sejumlah penulis terkemuka dari berbagai negara. Salah satu penulis yang menjadi “bintang” dalam UWRF kali ini adalah Louis de Bernieres, novelis Inggris yang karyanya “Captain Corelli’s Mandolin” memenangi Commonwealth Writers Prize 1995.</p>
<p>Di bawah ini, nama-nama peserta dan partisipan UWRF 2010:</p>
<p>Australia<br />
1. Ali Cobby Eckermann<br />
2. Antony Loewenstein<br />
3. Bob Gosford<br />
4. Caroline Baum<br />
5. Cate Kennedy<br />
6. Chris Hanley<br />
7. Chris Parkinson<br />
8. Christos Tsiolkas<br />
9. Daniel Ducrou<br />
10. Emilie Zoey Baker<br />
11. Ezra Bix<br />
12. Frank Moorhouse<br />
13. Gerard Ryle<br />
14. Greg Barton<br />
15. Irene Ritchie<br />
16. Janet De Neefe<br />
17. Jeff Lowenstein<br />
18. Jeni Caffin<br />
19. Jennifer Byrne<br />
20. Jo Case<br />
21. Joan London<br />
22. Jon Bauer<br />
23. Julie Janson<br />
24. Kirsty Murray<br />
25. Lionel Fogarty<br />
26. Marie Munkara<br />
27. Mark Jensen<br />
28. Mark Tredinnick<br />
29. Maurice O&#8217;Riordan<br />
30. Nam Le<br />
31. Omar Musa<br />
32. Pam Allen<br />
33. Patrick Allington<br />
34. Paul Ham<br />
35. Pauline Nguyen<br />
36. Rosemary Sayer<br />
37. Ruby Murray<br />
38. Sara Niner<br />
39. Sarah Taylor<br />
40. Selena Hanet-Hutchins<br />
41. Shane Maloney<br />
42. Shelley Kenigsberg<br />
43. Sian Prior<br />
44. Sophie Cunningham<br />
45. Stephen Carleton<br />
46. The Brothahood<br />
47. The Last Kinection<br />
48. Thomas Keneally<br />
49. Tony Maniaty</p>
<p>Indonesia<br />
1. Anak Agung Gde Putra Agung<br />
2. Andha S<br />
3. Arif Rizki<br />
4. Basuki KS Sunaryono<br />
5. Benny Arnas<br />
6. Clara Ng<br />
7. Cok Sawitri<br />
8. Debra Yatim<br />
9. Dede Oetomo<br />
10. Dewi Lestari<br />
11. Enin Supriyanto<br />
12. Hary B Kori&#8217;un<br />
13. Hermawan Aksan<br />
14. Iman Muhtarom<br />
15. Iwan Darmawan<br />
16. Kurnia Effendi<br />
17. M Aan Mansyur<br />
18. Made Wijaya<br />
19. Maghriza Novita Syahti<br />
20. Medy Loekito<br />
21. Ni Made Purnamasari<br />
22. Noor Huda Ismail<br />
23. Nusya Kuswantin<br />
24. Nyoman Nuarta<br />
25. Petty Elliot<br />
26. Poonam Sagar<br />
27. Reda Gaudiamo<br />
28. Sarojini<br />
29. Sitor Situmorang<br />
30. Sosiawan Leak<br />
31. Sutardji Calzoum Bachri<br />
32. Toenggoel Siagian<br />
33. W Hariyanto<br />
34. Wa Ode Wulan Ratna<br />
35. Wendoko<br />
36. Yudhi Herwibowo<br />
37. Zelfeni Wimra</p>
<p>USA<br />
1. Anne Martin Bowler<br />
2. Diana Darling<br />
3. Ioannis Gatsiounis<br />
4. Jamie James<br />
5. Janet Steele<br />
6. Joe Kim<br />
7. Kamau Abayomi<br />
8. Kris Saknussemm<br />
9. Lisa Teasley<br />
10. Michael Vatikiotis<br />
11. Mike Otterman<br />
12. Rachel Kushner<br />
13. Renée Melchert Thorpe<br />
14. Robin Hemley<br />
15. Steve Mettee</p>
<p>Filipina<br />
1. Apolonio Chua<br />
2. Marjorie Evasco<br />
3. Paul A. Dumol<br />
4. Ricardo M. de Ungria<br />
5. Tony Perez<br />
6. Yason Banal</p>
<p>Inggris<br />
1. Kate Adie<br />
2. Louis de Bernieres<br />
3. Richard Gombrich<br />
4. Sarah Murray<br />
5. William Dalrymple</p>
<p>Malaysia<br />
1. Brian Gomez<br />
2. Mohd Jayzuan<br />
3. Tash Aw<br />
4. Zhang Su Li</p>
<p>Vietnam<br />
1. Andrew Lam<br />
2. Anna Moi<br />
3. Nguyen Qui Duc</p>
<p>Singapura<br />
1. Deepika Shetty<br />
2. Madhav Mathur<br />
3. Shamini Flint</p>
<p>Irlandia<br />
1. Anne Enright<br />
2. John O&#8217;Sullivan</p>
<p>Lebanon<br />
1. Joumana Haddad<br />
2. Rabih Alameddine</p>
<p>Negara Lain:<br />
1. Adrian Grima (Malta)<br />
2. Ali Eteraz (Pakistan)<br />
3. Anne-Ruth Wertheim (Netherlands)<br />
4. Berislav Loncarevic (Croatia)<br />
5. Etgar Keret (Israel)<br />
6. Galina Lazareva (Russia)<br />
7. Hande Altayli (Turkey)<br />
8. Ma Jian (China)<br />
9. Ma Thida (Burma)<br />
10. Najat El Hachmi (Spain)<br />
11. Oleg Borushko (Ukraine)<br />
12. Senadin Musabegovic (Bosnia and Herzegovina)<br />
13. Shehani Gomes (Sri Lanka)<br />
14. Stephen McCarty (Hong Kong)<br />
15. Suad Amiry (Palestinian Territories)<br />
16. Tabish Khair (India)<br />
17. Teodozio Ximenes (Timor-Leste)</p>
<p><a href="http://ubudwritersfestival.com/programs">Jadwal UERF 2010</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/penulis-australia-dominasi-uwrf-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Joged, Tango Khas Bali dengan Banyak Ragam</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/joged-tango-khas-bali-dengan-banyak-ragam/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/joged-tango-khas-bali-dengan-banyak-ragam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 10:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[joged]]></category>
		<category><![CDATA[Joged Bumbung]]></category>
		<category><![CDATA[Joged Dadua]]></category>
		<category><![CDATA[Joged Gebyog]]></category>
		<category><![CDATA[Joged Leko]]></category>
		<category><![CDATA[Joged Pingitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agung Bawantara
Dibandingkan dengan Tari Legong dan Kecak, Joged kalah pamor dalam brosur-brosur pariwisata Bali. Tapi di Bali, tari ini termasuk tari yang populer. Tari ini merupakan tari pergaulan yang memiliki pola gerak lincah, dinamis dan bebas. Yang dimaksud bebas di sini adalah bahwa gerak-gerak dalam tarian tersebut tidak terikat oleh pakem dan komposisi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jalan-jalan-bali.blogspot.com/2010/10/joged-tango-khas-bali.html">Oleh: Agung Bawantara</a></p>
<p>Dibandingkan dengan Tari Legong dan Kecak, Joged kalah pamor dalam brosur-brosur pariwisata Bali. Tapi di Bali, tari ini termasuk tari yang populer. Tari ini merupakan tari pergaulan yang memiliki pola gerak lincah, dinamis dan bebas. Yang dimaksud bebas di sini adalah bahwa gerak-gerak dalam tarian tersebut tidak terikat oleh pakem dan komposisi yang ketat. Penari dapat melakukan banyak improvisasi, terutama saat meladeni partisipasi penonton (laki-laki) yang turut menari dengannya. Tari ini biasanya dipentaskan untuk suasana sukacita pada musim panen dan hari-hari besar.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/baliwwwdotcom/3807432630/"><img class="alignnone size-full wp-image-120" title="joged" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/joged.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p><span id="more-118"></span></p>
<p>Dasar gerak tari ini adalah gerakan tari Legong dan Kekebyaran. Ada banyak macam tari Joged di Bali, yaitu Joged Bumbung, Joged Pingitan, Joged Gebyog, Joged Gadrung, Joged Leko, dan Joged Dadua. Kecuali Joged Pingitan, semua pertunjukan Joged selalu ditarikan secara berpasangan. Biasanya setelah menarikan tarian pembuka, penari akan nyawat (memilih) penonton laki-laki untuk turut menari (ngibing) bersamanya. Bagian tersebut dinamakan paibing-ibingan. Ditilik dari penampilannya yang berpasangan, sepintas tari Joged dapat disejajarkan dengan Dansa di Eropa atau Tango dan Salsa di Amerika Latin.</p>
<p><strong>Joged Bumbung</strong></p>
<p>Jenis ini adalah yang paling populer di Bali. Musik pengiringnya adalah gamelan tingklik bambu berlarasslendro yang disebut Gamelan Gegrantangan. Tarian ini muncul pada tahun 1946 di Bali Utara lalu menyebar hampir ke semua desa di Bali.</p>
<p>Ketika acara televisi semakin marak dengan program hiburan, kepopuleran tari Joged pun merosot. Apalagi saat hiburan musik pop Bali semakin menyuat, banyak kelompok Joged Bumbung berguguran karena tak memiliki kesempatan berpentas. Dalam kondisi seperti itu ada kelompok Joged yang mengambil jalan mudah untuk merebut kembali pamornya yakni dengan menampilkan goyangan erotik saat menari. Namun, cara kontroversial itu tak bertahan lama. Masyarakat menghujatnya sebagai joged porno. Sementara, di panggung-panggung musik pop, grup-grup sexy dancer tampil hampir setiap pekan terutama di kawasan Denpasar dan Kuta dengan penampilan yang lebih vulgar dan lebih erotis.</p>
<p>Kini Joged Bumbung kembali ke gaya pementasannya semula yang tak terlalu vulgar. Untuk bertahan hidup, mereka pentas secara berkala di hotel-hotel di Kawasan Sanur, Kuta, Nusa Dua dan Ubud.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/joged1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-124" title="joged1" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/10/joged1.jpg" alt="" width="525" /></a></p>
<p><strong>Joged Pingitan</strong><br />
Joged ini diduga muncul di Bali sekitar tahun 1884. Semula merupakan tarian hiburan bagi raja, dan konon penari-penarinya adalah para selir.</p>
<p>Dinamakan Joged Pingitan karena di dalam pementasan tarian ini ada hal-hal pingit (tabu) yaitu pengibing (penari laki-laki) hanya diperbolehkan menari mengimbangi gerakan penari Joged. Dia sama sekali tidak diperbolehkan menyentuh bagian tubuh mana pun dari si penari Joged. Jika dilanggar, diyakini akan menyebabkan hal-hal yang mencelakkan penari atau pengibing itu sendiri.</p>
<p>Berbeda dengan Joged Bumbung, dalam pementasannya Joged Pingitan membawakan suatu lakon dengan iringan gamelan tingklikbambu berlaras Pelog (lima nada). Gamelan tersebut terdiri dari sepasan rindik besar (pangugal), sepasang rindik barangan berbilah 14 atau 15, sepasang Jegogan, sebuah kemplung, sebuahkajar, sebuah kemodong, satu atau dua buah seruling serta sebuahkendang kekrumpungan.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/AfNZ18cDBzM?fs=1&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.youtube.com/v/AfNZ18cDBzM?fs=1&amp;hl=en_US" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Kecuali pada kendang dan seruling, untuk memainkan instrument di atas, penabuh mempergunakan dua buah panggul (alat pukul) dengan teknik kakilitan atau kotekan. Tabuh-tabuh yang biasa dimainkan meliputi: Bapang Gede, Condong, Legong, Pacalonarangandan Gandrangan. Di antara semua tabuh itu, Gandranganlah yang paling meriah karena bisa ditarikan secara bebas dan improvisasi. Tabuh-tabuh lain cenderung formal seperti yang terdapat dalam Legong Kraton.</p>
<p>Lakon yang biasa dibawakan dalam pementasan Joged Pingitan adalah kisah Prabu Lasem dan Calonarang.</p>
<p>Saat ini penari Joged Pingitan sulit di temukan. Beberapa yang masih aktif dapat dijumpai di Gianyar, Badung dan Denpasar. Maestro Joged Pingitan adalah Ni Ketut Cenik. Sayang, Sang Maestro keburu meninggal dunia sebelum ada generasi baru yang benar-benar bisa mengambil alih kepiawaiannya.</p>
<p><strong>Joged Gebyog</strong><br />
Jenis tari joged yang diiringi dengan bumbung gebyog yang ritmis berlaras Slendro, jenis joged ini hanya terdapat didaerah Bali bagian barat yaitu di kabupaten Jembrana. Tari Joged Gebyog ini menggambarkan ibu-ibu rumah tangga yang menumbuk padi dengan riang-gembira. Masing-masing penari membawa sebatang bambu yang menggambarkan sebagai alu untuk menumbuk padi. Bambu-bambu tersebut diketukkn pada lesung kayu sehingga menghasilkan irama ritmis dan indah untuk mengiringi tarian Joged yang kemudian melibatkan penonton (laki-laki) untuk menari berpasangan dengannya (ngibing).</p>
<p>Saat ini sangat terbatas grup tari yang bisa mementaskan Joged Gebyog ini. Satu dari yang sedikit tersebut adalah Sanggar Tari Werdhi Sentana, Jembrana, asuhan Gusti Ketut Sudana.</p>
<p>Joged Gandrung<br />
Kalau joged jenis lain ditarikan oleh perempuan, Joged Gandrung ditarikan oleh laki-laki yang berhias dan berpakaian perempuan. Joged Gandrung diiringi seperangkat Gamelan Tingklik berlaraspelog yang terbuat dari bambu. Saat ini grup Joged Gandrung sangat jarang ditemui. Hanya di beberapa desa di Gianyar, Badung dan Denpasar masih tersisa beberapa sekaa (grup) Joged Gandrung. Itu pun semua penarinya perempuan, bukan laki-laki seperti pakem aslinya.</p>
<p><strong>Joged Leko</strong><br />
Jenis joged ini nyaris sama langkanya dengan Joged Pingitan. Joged yang diduga muncul pada tahun 1930-an itu kini hanya terdapat di tiga desa yakni Desa Sibang Gede (Badung), Desa Tunjuk (Tabanan) dan Desa Pedem (Jembrana).</p>
<p>Joged jenis ini menampilkan gerak tarian menyerupai gerak tari Legong Keraton sebagai pembuka, lalu dilanjutkan dengan gerak bebas saat bagian pengibing-ibingan.</p>
<p>Dalam sebuah pementasan, penampilan Joged Leko diawali dengan Condong yang dibawakan oleh seorang penari dengan gerak-gerak abstrak, lalu dilanjutkan dengan Kupu-kupu Tarumyang dibawakan oleh sepasang penari untuk menggambarkan kemesraan sepasang kupu-kupu yang bercengkerama di sebuah taman bunga.</p>
<p>Usai Kupu-kupu Tarum, penampilan dilanjutkan dengan Onte yang juga dibawakan secara berpasangan. Bagian ini mengisahkan sepasang muda-mudi sedang asyik memadu kasih. Disusul kemudian dengan Goak Manjus yang menggambarkan sepasang burung gagak sedang mandi dengan riang di sebuah telaga.</p>
<p>Terakhir, tampillah Joged yang dibawakan beberapa penari yang tampil secara bergiliran. Setiap penari, menunjuk (nyawat) seorang laki-laki dari kerumunan penonton yang diajaknya sebagai pasangan menari dalam beberapa putaran. Setiap penari Joged biasanya melakukan tiga sampai lima putaran paibig-ibingan, sebelum digantikan oleh penari Joged yang lain.</p>
<p>Yang menarik, pada saat tertentu Penari Joged tiba-tiba trance dan mengamuk. Biasanya hal tersebut terjadi jika Joged Leko menampilkan kisah Calonarang sebagai inti pertunjukannya. Tranceumumnya terjadi saat adegan perkelahian ditampilkan.</p>
<p><strong>Joged Dadua</strong><br />
Joged ini hanya terdapat di Banjar Suda Kanginan (Tabanan). Sering juga disebut Joged Duwe (‘e’ di belakang diucapkan seperti dalam kata ‘fase’). Tarian ini merupakan tarian ritual keagamaan di Pura-Pura yang terdapat di wilayah Banjar Suda Kanginan. Diperkirakan Joged ini lahir sebelum tahun 1920-an di Puri Kediri.</p>
<p>Mulanya, joged ini merupakan tarian hiburan biasa. Lama kelamaan, entah kapan mulainya, para Penari Joged ini seperti mendapat kekuatan supratural untuk menari dalam keadaan trance. Sejak saat itu, joged ini pun dinamakan dengan joged pingitan yang tidak boleh ditarikan di tempat-tempat yang dianggap tidak suci (leteh/cuntaka) dan hanya boleh ditarikan pada upacara-upacara tertentu.</p>
<p>Awalnya, Joged Dadua ini diiringi dengan seperangkat gamelan gong kebyar yang tak lengkap yang diistilahkan dengan Gong Sibak. Sekitar tahun 1940-an gong pengiring joged tersebut dilengkapi menjadi satu barung (set) gong.</p>
<p>Seperti namanya, penari Joged Dadua (dadua = dua) terdiri dari dua penari perempuan berusia kanak-kanak (belum menstruasi). Dua penari tersebut dipilih oleh warga dengan syarat mau belajar menari serta berparas elok. Begitu penari tersebut menstruasi, maka warga segera mencari penggantinya untuk dilatih dan diinisiasi secara spiritual.</p>
<p>Penari Joged Dadua mengenakan kostum Legong Keraton lengkap dengan kipasnya. Urutan penampilannya ada tiga palet (babak). Diawali dengan Palet Papeson-Lalegongan yang serupa dengan tarian awal Legong Keraton. Selanjutnya disusul dengan Palet Palayon yang juga mirip dengan gerakan Legong Keraton. Terakhir,Palet Ibing-ibingan menghadirkan satu atau dua pengibing yang telah ditentukan orangnya dan biasanya dari kalangan sutri. Tarian akan berakhir bila penabuh telah mendapat isyarat berhenti dari para sutri.</p>
<p>Kelompok Joged Dadua yang masih eksis saat ini antara lain Sekaa(grup) Joged Banjar Suda Kanginan, Desa Nyitdah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.</p>
<p><strong>Joged Bisama</strong><br />
Joged ini juga tergolong tarian hiburan yang mulai disakralkan. Tak banyak informasi mengenai tarian yang hanya terdapat di Desa Bongan Gede (Karangasem) ini.</p>
<p>Sumber:<br />
-Joged, <a href="http://www.babadbali.com/seni/drama/dt-joged.htm">babadbali.com</a><br />
-Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia<br />
-Dari Parade Seni di Ksirarnawa &#8211;Kekhasan Daerah Perkaya Keragaman Budaya, Bali Post Senin Pon, 27 Desember 2004<br />
-&#8217;Kerauhan&#8217; dalam Kesenian Bali, Masuknya &#8216;Memedi&#8217; hingga Dewa, Kadek Suartaya Bali Post Minggu Wage, 17 April 2005</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/joged-tango-khas-bali-dengan-banyak-ragam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Modifikasi Kepeng Kamasan</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/modifikasi-kepeng-kamasan/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/modifikasi-kepeng-kamasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 05:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Klungkung]]></category>
		<category><![CDATA[kamasan]]></category>
		<category><![CDATA[kepeng]]></category>
		<category><![CDATA[pis bolong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Industri uang  kepeng desa Kamasan telah menjadi identitas tersendiri bagi desa itu. Uang yang  awalnya digunakan sebagai alat pembayaran berevolusi menjadi alat upacara di  Bali. Kini, modifikasi uang kepeng telah menjadi komoditas niaga yang  mendunia.


Itulah yang saya  alami ketika berkunjung ke sana. Industri uang kepeng ini disentrakan di Banjar  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Industri uang  kepeng desa Kamasan telah menjadi identitas tersendiri bagi desa itu. Uang yang  awalnya digunakan sebagai alat pembayaran berevolusi menjadi alat upacara di  Bali. Kini, modifikasi uang kepeng telah menjadi komoditas niaga yang  mendunia.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/08/pisbolong.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-109" title="pisbolong" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/08/pisbolong.jpg" alt="" width="410" height="308" /></a></p>
<p><span id="more-107"></span></p>
<p>Itulah yang saya  alami ketika berkunjung ke sana. Industri uang kepeng ini disentrakan di Banjar  Jelantik Kori Batu, Tonja, Klungkung berbatasan langsung dengan Desa Kamasan,  asal industri ini.  Lokasi pembuatan kerajinan ini terletak sekira  35 kilometer dari Denpasar. Mencapai lokasi ini bisa ditempuh melalui dua jalur  utama. Pertama lewat jalur baru Jalan Ida Bagus Mantra, menyusur wilayah selatan  Bali atau lewat jalur lama, melewati Kota Gianyar.</p>
<p>Namun, sekarang,  wisatawan yang ingin berkunjung ke lokasi ini disarankan lewat jalur lama, yakni  lewat kota Gianyar. Sebab, jalur baru yakni Jalan By Pass Ida Bagus Mantra  sedang dalam pembongkaran. Sepanjang jalur ini sedang dilakukan pembenahan,  jalan rusak dan berlubang bahkan di beberapa ruas ada yang dibongkar sehingga  muncul jalan batu berpasir yang penuh debu. Akibatnya, pengguna sepeda motor  harus bertoleransi dengan debu dan kepulan kendaraan besar yang melalui jalan  ini.</p>
<p>Sadar dengan  kondisi itu, saya memilih lewat jalur lama, yakni Kota Gianyar ke timur.  Menemukan lokasi ini juga tidak terlalu susah. Tinggal susuri jalur utama  Gianyar-Semarapura. Begitu sampai di Kota Semarapura, saya tinggal mengikuti  papan petunjuk jalan. Terpampang dengan jelas arah menuju Desa Wisata Kamasan.  Begitu menemukan Patung Catur Muka Semarapura, ikon kota ini, saya tinggal belok  kanan sepanjang 2 kilometer. Papan nama industri kerajinan uang kepeng akan  gampang ditemukan.</p>
<p>Desa ini ini juga  tidak terlalu ramai. Meskipun lokasinya hanya beberapa kilometer dari Kota  Semarapura, namun suasana asri masih bisa kita rasakan. Wilayah Kamasan juga  tidak terlalu ramai dengan kendaraan bermotor. Namun, kesan bahwa penduduk di  desa ini lumayan padat pasti terasa. Hal ini bisa kita lihat dari rumah-rumah  yang letaknya berdekatan dengan ornamen khas Bali berupa angkul-angkul (gerbang  adat Bali).</p>
<p>Uang kepeng tertua yang pernah  ditemukan di Bali berangka 118 SM. Uang kepeng ini menggunakan huruf China,  berwarna hitam dan memiliki lubang. Sebab itulah, uang kepeng di Bali juga lebih  dikenal dengan sebutan “pis bolong”. Huruf pada bagian depan bertulis panca  aksara sementara bagian belakang bertuliskan dwi aksara yang melambangkan rwa  bhineda, purusa pradana dan akasa-pertiwi. Sementara bunga padma berkelopak  delapan melambangkan sembilan dewata yakni Dewata Nawa Sanga. Sementara lubang  kosong merupakan simbol pusat putaran.</p>
<p>“Sejak 2004, Bali memiliki uang  kepeng sendiri yang dikerjakan para pande dari Tonja yang filosofinya diperoleh  dari Pendeta Mathias dari Pati,” ungkap pemilik industri ini, I Made Sukma  Swacita. Menurut Sukma, uang kepeng Kamasan dibuat dari lima material logam yang  melambangkan Panca Datu yakni besi melambangkan Dewa Wisnu berpusat di Utara,  perak melambangkan Dewa Iswara berpusat di Timur, tembaga melambangkan Dewa  Brahma berpusat di selatan, emas melambangkan Dewa Iswara berpusat di barat dan  perunggu melambangkan Dewa Siwa yang berpusat di tengah. Panca Datu bermakna  lima kekuatan hidup yang dipengaruhi oleh Panca Dewata yakni lima dewa yang  menguasai poros arah utama.</p>
<p>Saat ini selain mencetak uang kepeng, Kamasan Bali juga  mencetak berbagai perlengkapan upacara seperti pretima, capah, bandrang,  pedamaran, gegaluh, pelangkiran, pabuan, bajra dan keris. Dalam sehari, industri  ini mampu menghasilkan sekira 5000 keping uang kepeng.</p>
<p>Namun Kamasan Bali tidak hanya membuat uang kepeng untuk sarana  upacara yang sakral. “Uang kepeng jika tidak diupacarai hanyalah seperti  souvenir biasa,” kata Sukma. Atas dasar itulah, dia berinisiatif memodifikasi  uang kepeng menjadi cindera mata. Beberapa bentuk bangunan dipilih oleh dia yang  kini dipajang di art shopnya. Bentuk modifikasi itu antara lain lumbung arta,  gedong arta, bale gading, pabuan, patung Siwa, patung Ganesha atau Patung Dewi  Kwam Im.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/08/pisbolong1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-112" title="pisbolong1" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/08/pisbolong1.jpg" alt="" width="410" /></a></p>
<p>Bagi wisatawan yang ingin mengunjungi bagaimana proses  pembuatan uang kepeng dan modifikasinya bisa datang langsung ke Kamasan Bali di  Jalan Banjar Jelantik Kori Batu, Desa Tonja, Klungkung Bali. Sementara, jika  hanya ingin melihat produk kerajinan ini, bisa datang ke kantor Kamasan Bali di  Perum Candra Astiti Blok A/17, Biaung Jalan Prof. Ida Bagus Mantra. Wisatawan  bisa menghubungi nomor telepon ini jika berkunjung ke lokasi ini yakni 468187.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/modifikasi-kepeng-kamasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perang Pandan: Mengajarkan Keberanian</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/perang-pandan-mengajarkan-keberanian/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/perang-pandan-mengajarkan-keberanian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 22:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Karangasem]]></category>
		<category><![CDATA[Ngusaba Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Pandan]]></category>
		<category><![CDATA[Tenganan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Bali tidak kehabisan tradisi unik. Perang pandan salah satunya. Ritual yang dilaksanakan setiap tahun ini selalu mengundang decak kagum sekaligus kengerian wisatawan. 

Perang pandan atau mekare-kare dilakukan setiap tahun untuk menyambut upacara Ngusaba Desa. Lokasi di Desa Tenganan, Karangasem, 80 kilometer ke arah timur laut atau dua jam perjalanan dari Kota Denpasar. Perang pandan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bali tidak kehabisan tradisi unik. Perang pandan salah satunya. Ritual yang dilaksanakan setiap tahun ini selalu mengundang decak kagum sekaligus kengerian wisatawan. </em></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/baliwwwdotcom/2345443532/"><img class="alignnone size-full wp-image-89" title="mekarekare" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/mekarekare.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Perang pandan atau <em>mekare-kare</em> dilakukan setiap tahun untuk menyambut upacara Ngusaba Desa. Lokasi di Desa Tenganan, Karangasem, 80 kilometer ke arah timur laut atau dua jam perjalanan dari Kota Denpasar. Perang pandan di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad tahun ini diikuti hampir 200 peserta. Masing-masing peserta berhadapan dan dipimpin oleh seorang wasit, biasanya orang yang dituakan dalam perang pandan.</p>
<p><span id="more-88"></span></p>
<p>I Ketut Ardana, Bendesa Adat Tenganan Dauh Tukad, Karangasem, desa sejauh 80 kilometer timur laut Denpasar, tidak ada ketentuan apapaun bagi wisatawan yang ingin berperang pandan. ”Yang penting mereka mematuhi aturan tidak tidak bikin ribut,” kata Ardana.</p>
<p>Perang pandan, menurut Ardana bukanlah sebuah pertarungan. Menurut dia, perang pandan bermakna semangat melindungi desa dalam menghadapi bahaya yang datang dari luar desa. ”Spirit perang pandan adalah penghormataan terhadap Dewa Indra,” kata dia. Dewa Indra dalam Hindu berarti dewa perang. Setelah ritual ini, upacara dilanjutkan dengan pementasan tari Rejang Dewa di Pura Desa setempat.</p>
<p>Kedua kubu dibekali dengan seikat pandan dan perisai dari pohon ate. Mereka lalu bergumul dan menggeretkan pandan di punggung lawan hingga berdarah-darah. Dari perjanjian, mereka dilarang menggeretkan pandan ke wajah. Meskipun bertarung, dalam pergumulan kadang ada keceriaan berupa pekik untuk menambah semangat ketika menggeretkan pandan ke punggung lawan.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/baliwwwdotcom/2602937423/"><img class="alignnone size-full wp-image-94" title="mekarekare1" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/mekarekare1.jpg" alt="" width="426" height="640" /></a></p>
<p>Attila Velte, seorang wisatawan tak henti-hentinya berdecak kagum dengan ritual ini. ”Menakjubkan! Saya melihat keberanian, keceriaan dan kebersamaan dalam tradisi ini,” kata Attila. Pertunjukkan perang pandan ini merupakan pertunjukkan pertama yang dia tonton.</p>
<p>Iringin baleganjur menambah semangat peserta perang pandan. Iramanya yang menghentak dan bertempo tinggi menjadikan geretan pandan membuat semangat pemain untuk menghujamkan pandan berduri di punggung lawan juga semakin keras. Bahkan, ketika lawan sudah jatuh dan mengucurkan darah, geretan pandan tidak berhenti dilakukan.</p>
<p>”Perang pandan juga mengajarkan sportivitas. Begitu semua selesai, kita akan berangkulan,” kata Ardana. Yah, spirit kebersamaan, keceriaan inilah yang diwariskan oleh perang pandan.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="if(typeof(jsCall)=='function'){jsCall();}else{setTimeout('jsCall()',500);}" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="if(typeof(jsCall)=='function'){jsCall();}else{setTimeout('jsCall()',500);}" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="if(typeof(jsCall)=='function'){jsCall();}else{setTimeout('jsCall()',500);}" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/perang-pandan-mengajarkan-keberanian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantai Dreamland, Pantai Impian</title>
		<link>http://hotelku.co.id/blog/pantai-dreamland-pantai-impian/</link>
		<comments>http://hotelku.co.id/blog/pantai-dreamland-pantai-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 08:15:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Badung - Bali Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[new kuta]]></category>
		<category><![CDATA[new kuta golf]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai Dreamland]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai Impian]]></category>
		<category><![CDATA[Pecatu Indah Resort]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hotelku.co.id/blog/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Tidak salah jika Pantai Dreamland disebut New Kuta Beach. Pantai ini mencoba menghadirkan romantisme Kuta beberapa tahun silam. Eksotis!


Datang ke pantai ini seperti datang ke pulau impian. Pantai ini masuk ke wilayah Desa Pecatu, Kuta Selatan. Lokasinya agak terpencil meskipun juga tidak jauh dari Kuta. Untuk mencapainya, kita harus akan bisa melihat patung Garuda Wisnu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tidak salah jika Pantai Dreamland disebut </em><em>New</em><em> </em><em>Kuta</em><em> </em><em>Beach</em><em>. </em><em>Pantai ini mencoba menghadirkan romantisme Kuta beberapa tahun silam. Eksotis!</em></p>
<p><em><a href="http://www.flickr.com/photos/arbal/3538242383/"><img class="alignnone size-full wp-image-73" title="dreamland1" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamland1.jpg" alt="" width="625" /></a><br />
</em></p>
<p>Datang ke pantai ini seperti datang ke pulau impian. Pantai ini masuk ke wilayah Desa Pecatu, Kuta Selatan. Lokasinya agak terpencil meskipun juga tidak jauh dari Kuta. Untuk mencapainya, kita harus akan bisa melihat patung Garuda Wisnu Kencana. Pun ketika kita akan ke Pura Uluwatu, kita juga akan melewati gerbang menuju pantai ini. Kawasan ini kini dikembangkan menjadi kompleks kondotel Bali Pecatu Graha.</p>
<p><span id="more-71"></span></p>
<p>Pantai ini letaknya agak tersembunyi.Dari pintu gerbang Pecatu Indah Resort, wisatawan harus menyusuri jalan menurun dengan pemandangan yang menakjubkan selama 10 menit. Dengan tebing dan batu yang menjulang, perjalanan ke pantai ini seakan-akan membawa kita ke dunia lain, tanah impian. Bisa jadi, ini yang menyebabkan pantai ini agak lama baru ditemukan wisawatan.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamland2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-77" title="dreamland2" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamland2.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Saat ini, pembangunan fasilitas pariwisata sedang dikembangkan oleh Bali Pecatu Resorts. Di kawasan ini tersedia lapangan<a href="http://baliwww.com/golf/detail/8.html" target="_blank"> golf 18 hole</a>, akan dibangun international schools, rumah sakit internasional, shopping mall dan kawasan penunjang lainnya. Kawasan ini tidak lama lagi akan menjadi salah satu tempat wisata paling eksklusif dan mewah di Bali.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamland.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-76" title="dreamland" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamland.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Pantai Dreamland sendiri hampir mirip dengan pantai Kuta. Tebing dan karang yang tajam menjadi pemandangan khas pantai ini. Celah karang yang terjal ditambah deburan ombak dan bulir-bulir pasir putih menjadi pemandangan eksotis yang memikat mata. Lokasi berpasir putih bersih di pantai sempit tepat di bawah dinding karang curam cocok untuk menikmati matahari tenggelam. Sama seperti romantisme ala Pantai Kuta, salah satu daya tarik pantai ini adalah kemampuannya menghadirkan matahari tenggelam yang mempesona.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamland3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-79" title="dreamland3" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamland3.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Menjelang malam, pemandangan sang surya menerobos peraduan rasanya terlalu berharga untuk tidak diabadikan. Romantis. Tidak salah jika banyak orang menjadikan pantai ini sebagai lokasi foto pra pernikahan (<a href="http://ablwedding.com" target="_blank"><em>prewedding</em></a>). Ombaknya yang tinggi dan besar serta airnya lautnya yang warnanya hijau pertanda pantai masih bersih banyak menarik minat para penggemar olahraga selancar (<em>surfing</em>). Bahkan Dreamland sudah dijadikan semacam <em>surfing spot</em> baru untuk kawasan Bali.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamlands.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-80" title="dreamlands" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamlands.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Beberapa tahun silam, karena pantai ini sepi dan belum banyak wisawatan yang berkunjung, para turis yang berjemur tidak segan untuk berjemur bugil bagian atas. Namun, seiring dengan makin banyak wisawatan lokal, turis-turis yang berjemur nudes juga makin jarang ditemui.</p>
<p><a href="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamlandsrf.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-82" title="dreamlandsrf" src="http://hotelku.co.id/blog/wp-content/uploads/2010/07/dreamlandsrf.jpg" alt="" width="625" /></a></p>
<p>Dengan pembangunan fasilitas pariwisata di kawasan ini, pantai ini nantinya akan mampu membuat pengunjung nyaman dan tanpa menghilangkan kesan dunia impian yang selama ini dibangun oleh Pantai Dreamland.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hotelku.co.id/blog/pantai-dreamland-pantai-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

