SUNYA NIRVANA TELAH MENARI DIHADAPAN SANG GURU (para PEDANDE BUDHA di budhakeling)


October 21, 2010

Oleh Cok Sawitri

Akhirnya, drama tari Percakapan Sunya Nirvana ini pentas di desa Budhakeling (19 Oktober 2010), Karangasem Bali, di griya jelantik, di rumah kaum brahmana budha bali, yang sejak lama dikenal sebagai brahmana yang menguasai berbagai keahlian seni. Dari ngewayang, gambuh, ngarja, prembon, nopeng, juga memainkan alat musik dari gender hingga cungklik. Kaum budha di Bali ini memang berbeda dengan ‘gaya’ budha-budha di daerah di Indonesia begitu pula di belahan dunia yang lain; mereka dari garis Mahayana namun berbasis bajrayana pada tekanan tantrayana; lebih suka menyebutnya dengan mantranaya; disinilah, kakawin Sutasoma biasa dibacakan dan menjadi rajapustaka; para pewaris semangat Mpu Tantular ini kini berkembang menjadi komunitas yang cukup banyak; walau banyak dari keturunan Budhakeling ini berpindah ke luar desa; entah dalam kerangka tugas spiritual, entah juga karena tuntutan perubahan zaman. Mereka itu memiliki silsilsah sejarah yang bermula dari Dang Hyang Astapaka: pendeta budha yang datang ke bali atas undangan Dalem Waturenggong di gelgel dalam rangka menyelesaikan suatu upacara. Itulah awalnya, Dang hyang astapaka memulai puja tapanya di budhakeling dan kemudian mewariskan tradisi tak hanya spiritual namun tradisi berkesenian.

Dasar gerak dramatari Percakapan sunya nirvana ini bermuara kepada gerakan panji style budhakeling, melalui salah satu keturunannya ida Wayan Padang; diceritakan bahwa gerakan kupu-kupu ini diajarkan oleh Dang Hyang Astapaka kepada putra-putranya; kala itu tujuannya agar wilayah pemukiman itu ada ‘keleteg’ (penanda detak) dan penguatan kehalusan hati. Dayu Arya kemudian bersama saya berusaha keras mewujudkan gerakan pola dasar itu; sebab Ida Wayan Padang dalam ketuaan usianya; lebih banyak memberi ‘tutur’ (satue) dan contoh gerakan yang menjadi prinsip. Dayu Arya yang sejak kecil diasuh ayahnya Ida Wayan Granoka Gong dengan cepat dapat memahami maksud dari Ida Wayan Padang. Saya berusaha mewujudkan pola pemanggungan dan pola dasar koreonya. Pementasan ini; sungguh suatu model pola gerak kembali kepada yang disebut ‘bebakalan’ kembali kepada gerakan-gerakan asal; yang belum dibumbui dengan palegongan…dst

Setelah pentas di uji coba pentas di SMA Negeri 1 Sidemen (25 september 2010); dihadapan kawan-kawan para penari, berbagai kritik dan sanjungan, membuat saya dan dayu ani mengevaluasi lalu menggenapinya saat pentas di UWRF 2010 (6 oktober 2010); di sini pun banyak hujan kritik dan pujian, membuat kami kembali membenahi dan bersiap menghaturkan pentas ini ke Budhakeling; ke asal semua pola gerak ini dilahirkan. Tidak ada perubahan yang besar kecuali setting pementasan dilaksanakan di bawah pohon sawo; jabaan tengah dari griya jelantik, yang dahulu kala memang terbiasa digunakan sebagai ‘panggung pertunjukan’.

Ada perbedaan jelas menyetting panggung dengan halaman rumah dimana sebatang pohon sawo ditengahnya. Ada seharian saya dan crew mempelajari ke luar masuknya para penghuni griya dan memperhatikan bagaimana posisi pintu tinggi dengan ketinggian pohon sawo serta tenda-tenda yang telah dibangun untuk undangan pediksaan yang akan diselenggarakan sehari setelah pementasan. Akhirnya setting dapat kami selesai dalam waktu setengah hari, dengan sesekali harus menghentikan pekerjaan karena rombongan pendande melewati halaman tengah itu.

Pentas Percakapan Sunya Nirvana ini, kali ini memang menarik sang penari ke hadapan sang guru dalam tradisi bali; menghaturkan persembahan tanpa berani mempertanyakan; apapun itu, bahkan saat diminta; pentas harus menunggu usainya puja stawa sang guru; jadi pentas dilakukan ketika sang guru telah siap duduk untuk menonton, bukan tergantung kepada penonton yang lainnya.Inilah sikap tatakrama yang harus dijalani; jika menginginkan batin pun ikut menari.

Sikap ini sangat penting bagi calon pragina terutama bagi anak-anak remaja dari sma negeri 1 sidemen; untuk memahami tata krama berguru; menghormati dengan iklas kepada sang guru yang hendak menilai proses pelatihan itu. Walau sang guru bukanlah guru langsung, namun posisi para pendande ini adalah sang guru yang sejatinya; bapa-ibu yang sesungguhnya. Ida Wayan Oka Granoka mengatakan: bahkan pembukaan Pesta Kesenian Bali pun tak akan mampu menarik kehadiran para pedande ini, maka berbahagialah para penari ini ditontoni para pendande (para nabe bahkan). Dan usai menari; Pedande Gde Djelantik Dwaja; memberikan panugrahanya, memberikan restunya; memberi dorongan dan rasa bahagia; sebab kini menari tak lagi membisu; semoga kemauan seperti ini dilanjutkan dan ditularkan. Demikian pula Ida Wayan Granoka Gong (Mahaguru Mahabajra sandi); mengatakan: jantung kamu tersentak oleh pementasan kalian; lanjutkan dan jangan ragu untuk terus memurnikan; Artinya, kami harus terus berbenah; cara sang guru menegur tidaklah seperti guru umumnya, beliau dengan jenial menyarankan memasukan terjemahan kakawin Sutasoma ke dalam ‘pola bahasa’ yang dapat diterima tanpaa mengurangi susbtansi dan puitikanya.

Nah, rasa gemetar, gugup; rasanya lenyap, walau wajah saya dan dayu arya tetap pucat pasi, saat duduk bersimpuh di hadapan sang guru; menyampaikan permohonan; memaklumi segala kekurangan. Tetaplah tetap kami anak-anak yang nakal, usai itu, saat jabaan tengah bebas dari pandangan sang guru; mulailah kembali kami bercanda dan membongkar setting secepat mungkin, sebab besok upacara pediksaan pedande kanya akan dilakukan pagi-pagi benar.

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

 

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree